TADABBUR

BELAJAR DARI JAGAD RAYA

Pandanglah ke atas sana, perhatikan langit yang membentang luas dengan megah. “Dia yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah.” Di balik kemegahan dan kesempurnaannya itu, Dia menghiasinya dengan berbagai keindahan. Sebuah pemandangan luar biasa yang sering sekali kita lewatkan karena serbuan berbagai kesibukan. “Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu” *** Sementara bumi yang kita pijak saat ini tidak kalah hebat…

UNTAIAN KATA YANG PALING UTAMA

Pernahkah kita menghitung jumlah kata yang pernah kita ucapkan? Kalau belum, mungkin kita bisa mencoba bersama-sama seperti yang sering dilakukan oleh Yahya bin Mua’adz, seorang ulama dari kalangan tabi’in. Sampai kini, entah berapa ratus ribu jumlah kata yang kita keluarkan sejak bangun pagi sampai tidur lagi. Begitu mudah lisan ini berucap, bahkan seringkali tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Ketika kata belum keluar, ia masih menjadi tawanan kita. Tapi setelah kata itu keluar, kitalah yang menjadi tawanannya. Kita akan menjadi tawanan kata-kata buruk yang kita ucap tanpa sadar, bahkan kata-kata itu akan menjadi penyebab celaka. Kita tidak tau, di antara puluhan juta kata yang sudah terlompat dari lisan kita selama hidup ini, mana di antara kata itu yang akan membawa kita ke puncak surga, atau justru di antara kata itu ada yang menyebabkan kita tercampakkan ke jurang neraka. Apalagi kalau sampai berbohong atau menceritakan kejelakan orang lain dengan maksud agar kawan-kawannya tertawa;…

PENGHAPUS DOSA SEBANYAK BUIH DI LAUTAN

Orang yang terbaik bukanlah orang yang tak punya dosa. Tetapi yang terbaik adalah orang yang berdosa lalu bertaubat dan kembali kepada Tuhannya. Namun bagaimana bila dosa itu sangat melimpah sebanyak buih di lautan? Akankah terampuni…? Ya Allah… Bila mengingat dosa, maka alangkah malu rasanya diri ini dengan tumpukan dosa yang menggunung tinggi dan melangit luas. Iblis memang benar-benar membuktikan sumpahnya di hadapan Allah saat ia diusir dari surga: ia akan bersungguh-sungguh menggelincirkan anak cucu adam dari kiri, kanan, depan dan belakang. Ia dan bala tentara setan bekerja keras dengan cerdas untuk menggiring sebanyak-sebanyak manusia untuk kelak menjadi temannya di neraka. Maka tidak heran, orang yang melakukan dosa itu sebenarnya ia tau dan benar-benar menyadari itu dosa, tapi tetap aja dia kerjakan. Sebab ada nikmat di sana. Semua jadi tampak indah dipandang mata. Godaan syahwat wanita menjadi salah satu senjata terampuh yang terbukti mampu menundukkan banyak orang dan membuat mereka tak…

DI TENGAH LAUTAN TASBIH

Renungkanlah, betapa setiap makhluk melantunkan tasbih dan tak pernah bosan dengannya. Tanah yang kita pijak, kursi tempat kita duduk, kasur tempat kita berbaring, bahkan netbuk tempat saya mengetik dan buku yang sedang anda baca ini, semuanya senantiasa bertasbih kepada Allah Swt. Di saat seluruh makhluk bertasbih menyucikan Allah sementara diri kita lalai melakukannya maka alangkah meruginya diri ini. Alangkah malunya, saat seluruh makhluk yang bertasbih memuji Tuhannya, kita malah lalai dan sering melupakan Allah, atau bahkan bermaksiat kepada-Nya. Alam semesta ini tak pernah diam. Mereka terus bertasbih dan berdzikir kepada Allah. Gunung-gunung dan burung-burung semua bertasbih bersama Nabi Daud As. إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالإشْرَاقِ .وَالطَّيْرَ مَحْشُورَةً كُلٌّ لَهُ أَوَّابٌ “Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama Dia (Daud) di waktu petang dan pagi, Dan (kami tundukkan pula) burung-burung dalam Keadaan terkumpul. masing-masingnya Amat taat kepada Allah” (Shaad: 18-19) Maka sesungguhnya kemanapun kita menghadap di sana ada tanda…

SELURUH MAKHLUK PUN BERTASBIH

Imam Ath-Thabrani pernah meriwayatkan sebuah hadits sahih dari sahabat Abu Darda. Ia pernah mengisahkan bahwa suatu hari Rasulullah Saw. pernah mengambil tujuah buah kerikil. Maka kerikil-kerikil itu bertasbih di tangan Rasulullah Saw. Abu Darda mendengar sendiri dengungannya. Kemudian Nabi meletakkan kerikil-kerikil itu di tangan Abu Bakar, maka kerikil-kerikil itu pun bertasbih lagi. Kemudian beliau meletakannya di tangan Umar dan mereka masih bertasbih. Lalu beliau meletakannya di tangan Utsmân maka mereka bertasbih lagi. Dalam riwayat lain dikatakan, bahwa semua orang yang ada dalam perkumpulan itu mendengar tasbih kerikil-kerikil itu” Pohon, batu, dan tanah bertasbih dalam bahasa mereka. Begitu pula halilintar yang bergemuruh dahsyat dengan pekik kilat yang membelah langit itu pun bertasbih. وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ “Dan gemuruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) Para Malaikat karena takut kepada-Nya” (Ar-Ra’d: 13) Tidak hanya itu, nasi yang kita makan, lauk pauk, sayur mayur dan buah-buahan dan berbagai makanan yang…

DAHSYATNYA TASBIH

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatu apapun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (Al-Isrâ’: 44) Sejak matahari terbit sampai terbenam kemudian terbit lagi di hari berikutnya, lalu terbenam dan kembali terbit lagi, tidak putus-putusnya seluruh makhluk alam semesta ini bertasbih kepada Allah Swt. Mereka bertasbih kepada Allah dengan bahasa masing-masing. Burung-burung bertasbih dalam kicauannya, angin bertasbih dalam hembusannya, matahari, bulan, bintang-bintang dan semesta galaksi bertasbih dan memuji Allah Swt. Tasbih tidak hanya menjadi ibadah manusia, malaikat, dan jin saja. Tasbih adalah dzikir seluruh makhluk mulai dari bumi, langit, pohon, tanah, benda mati, tumbuh-tumbuhan, bangunan, kerikil, ikan-ikan, segenap hewan dan makhluk-makhluk yang lainnya. Sungguh banyak hal-hal gaib di luar diri kita yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera, padahal semuanya terjadi dan terus berlangsung dalam kehidupan kita…

DUDUK BERSAMA ORANG YANG BERDZIKIR

Lihat dan perhatikanlah apa yang Rasulullah Saw. senangi. Rasulullah bersabda, “Dudukku bersama suatu kaum yang berzikir kepada Allah Swt. semenjak shalat subuh hingga terbitnya matahari lebih saya sukai dari pada saya memerdekakan empat orang budak keturunan Ismail Alaihissalam. Dan duduknya saya bersama suatu kaum yang berzikir kepada Allah Swt. semenjak shalat ashar hingga menjelang terbenam matahari lebih saya sukai dari pada memerdekakan empat budak”. Pernah ada seseorang yang bertanya kepada Abu Darda ra dan beliau dalah orang yang tidak pernah berhenti berzikir, “ Berapa banyak Anda bezikir dalam sehari?” Beliau menjawab “Seratus ribu kali kecuali jika jari-jari saya salah dalam menghitungnya.” “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah…

MENGAPA HIDUP KITA SELALU GELISAH?

Ketika hati galau, resah, gelisah dan tidak tenang, berarti ada yang kurang dalam hidup kita. Ada hal-hal yang mesti diperbaiki lebih lanjut lagi. Dalam buku Miracle of Zikir, Ust Arifin Ilham menyatakan bahwa ada banyak penyebab yang menyebabkan hidup terasa gelisah. Diantaranya: Pertama, hidup gelisah karena banyak dosa. Semakin banyak dosa yang dilakukan, semakin gelisah seseorang. Kalau di bilang tenang dengan dosa, itu bohong! Seakan saja wajahnya dan penampilannya tenang, tetapi hatinya terus dalam keraguan, kegelisahan dan tidak nyaman. Orang banyak dosa itu banyak gelisahnya, banyak sialnya. Kalaupun di beri kesenangan hanya soal waktu. Akibat dosa ditunda sesaat, lalu tanpa disangka-sangka bencana itu pun datang. Penangguhan akibat dosa itu namanya Istidraj. Allah tidak lupa, hanya memberi tangguh saja. Ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah , “Apa itu dosa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dosa ialah sesuatu yang membuat gelisah, dan engkau takut sekali orang tahu apa yang ada di hatimu.” Banyak menuntut,…

MENGAPA HIDUP KITA GELISAH?

Ketika hati galau, resah, gelisah dan tidak tenang, berarti ada yang kurang dalam hidup kita. Ada hal-hal yang mesti diperbaiki lebih lanjut lagi. Dalam buku Miracle of Zikir, Ust Arifin Ilham menyatakan bahwa ada banyak penyebab yang menyebabkan hidup terasa gelisah. Diantaranya: Pertama, hidup gelisah karena banyak dosa. Semakin banyak dosa yang dilakukan, semakin gelisah seseorang. Kalau di bilang tenang dengan dosa, itu bohong! Seakan saja wajahnya dan penampilannya tenang, tetapi hatinya terus dalam keraguan, kegelisahan dan tidak nyaman. Orang banyak dosa itu banyak gelisahnya, banyak sialnya. Kalaupun di beri kesenangan hanya soal waktu. Akibat dosa ditunda sesaat, lalu tanpa disangka-sangka bencana itu pun datang. Penangguhan akibat dosa itu namanya Istidraj. Allah tidak lupa, hanya memberi tangguh saja. Ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah , “Apa itu dosa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dosa ialah sesuatu yang membuat gelisah, dan engkau takut sekali orang tahu apa yang ada di hatimu.” Banyak menuntut,…

KEAJAIBAN DZIKIR

“Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Ankabut: 45) Pembaca sekalian… Suatu hari terjadi perbincangan antara Rasulullah Saw. dan sahabatnya. “Maukah kalian aku beritahu tentang amalan yang paling baik, paling suci di hadapan Rabb kalian, paling tinggi derajatnya, lebih baik dibandingkan dengan menginfakkan emas dan perak, dan lebih daripada kalian bertemu musuh kalian, lalu kalian menebas leher mereka dan mereka pun menebas leher kalian?” tanya Rasulullah Saw. Para sahabat menimpali, “Mau..” Rasulullah Saw. bersabda, “Zikir kepada Allah” Hati dan akal kita tidak pernah berhenti sedetikpun bekerja. Akal pikiran dan perasaan terus mengembara dan menjelajah, berpikir dan merasa tentang berbagai hal yang pernah ia lihat, ia dengar, atau ia rasakan. Bila tidak disibukkan dengan kebaikan, kedua kendali kehidupan ini akan disibukkan dengan keburukan. Mengingat Allah adalah cara paling baik untuk menjernihkan pikiran dan mendamaikan perasaan. Berzikir kepada Allah adalah…

KEKUATAN IMAN; LAHIRKAN KETANGGUHAN DAN KESABARAN

Ribuan tahun yang lalu, di tanah kering dan tandus, di kegersangan kawasan yang meranggas, di atas bukit-bukit bebatuan yang ganas, sebuah cita-cita universal ummat manusia dipancangkan. Nabi Ibrahim Alaihissalam, Abul Millah, dan cita-citanya yang kelak terbukti melahirkan peradaban besar. Cita-cita kesejahteraan lahir dan batin. Jutaan manusia kemudian mencoba merefleksikan makna tersebut pada berbagai bentuk ritual yang telah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dari berbagai etnik, suku, dan bangsa di seluruh penjuru dunia, mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil, sebagai refleksi rasa syukur dan sikap penghambaan mereka kepada Allah SWT. Sementara itu, pandemi memaksa jutaan yang lain terhalang memasuki Tanah Suci Makkah, untuk melaksanakan rukun Islam ke lima. Jika kita merindu Makkah, sesekali abaikanlah bayangan tentang gedung-gedung yang menjulang gagah, juga jam raksasa yang berdetak mengabarkan kian dekatnya saa’ah. Tapi biarkan khayal itu menyusuri bukit-bukit dengan kerikil pecah, yang di tengahnya dulu terjepit sebuah lembah. Di situlah semua bermula, dalam doa di…

BELAJAR SABAR DARI KISAH NABI IBRAHIM ALAIHISSALAM

Rasa syukur tak putus-putusnya kita haturkan kepada Allah yang mempertemukan kita dengan Idul Adha, yaitu bagian dari hari yang paling utama sepanjang tahun ini. Inilah hari-hari yang penuh karunia dari Allah dimana setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahala dan balasannya. Dalam hadits riwayat Bukhari, Rasulullah menegaskan bahwa tidak ada suatu hari pun amal shaleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini (yaitu 10 hari Bulan Dzulhijjah). Para sahabat bertanya, “Sekalipun jihad di jalan Allah?” Rasulullah menjawab “Sekalipun jihad di jalan Allah. Kecuali ada seseorang yang keluar dengan diri dan hartanya kemudian tidak kembali sedikiput darinya.” Puncaknya ketika jamaah haji melakukan wuquf di Arafah. Bagi kita yang tidak berhaji sangat dianjurkan untuk melakukan puasa, yang bila puasa kita itu diterima oleh Allah, maka ia dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun kemudian. Sementara di hari ini, kita merayakan Idul Qurban, dengan amalan terbaiknya menyembelih hewan sebagai bentuk ketundukan kita…

HATI-HATI TERPERDAYA

Ada kenikmatan tersendiri ketika kita melaksanakan ibadah. Kenikmatan yang menjadikan kita untuk melakukan ibadah itu sekali lagi. Ada kenikmatan dalam tilawah Alquran, kenikmatan dalam shalat, kenikmatan dalam sedekah, kenikmatan dalam umrah, dalam haji, dan dalam ibadah-ibadah lainnya. Hingga kita pun ingin terus mengulang dan kembali mengulang ibadah tersebut. Tetapi, dari sini kadang-kadang Setan masuk lalu memperdaya kita. Sehingga kemudian kita merasa lebih dari pada orang lain. Merasa hebat dari pada orang lain. Merasa bahwa kita pantas masuk surga dan orang lain di neraka. Lalu, kadang-kadang kepantasan itu begitu menghujam masuk di dalam hati kita sampai-sampai kita berani memastikan bahwa, “saya yang benar, dia yang salah, saya di surga, dia di neraka.” Hal ini sangat diwanti-wanti oleh Rasulullah Saw untuk jangan sampai kita lakukan. Dalam kitab al Mathalib al Aliyyah, Ibnu Hajar al Atsqalani meriwayatkan hadis dari Rasulullah Saw, begitu pula Ibnu Batthah dalam kitab al Ibanah bahwa, Rasulullah Saw pernah…

MEWASPADAI SYAHWAT YANG TERSEMBUNYI

Dalam banyak hadis, Rasulullah Saw mengingatkan kita untuk hati-hati dengan “as syahwah al khafiyyah” syahwat yang tersembunyi, kelezatan atau kenikmatan yang tersembunyi. Seperti yang disebutkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan Imam at Thabarany dalam Mu’jamnya bahwa, Rasulullah Saw bersabda, “atakhawwafu ala ummati as syirka wa syahwatal khafiyyah” sesungguhnya aku takut terjadi pada umatku, syirik dan syahwat yang tersembunyi. Imam Baihaqy dalam Syu’abul Iman meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “inna akhwafa ma akhafu ala ummati, ar riya’ wa syakhwatal khafiyyah” sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan terjadi pada umatku adalah, riya’ dan syahwat yang tersembunyi. Apa yang dimaksud dengan syahwat yang tersembunyi ini, dan apakah setiap syahwat itu buruk, berdosa, dan membawa dampak yang tidak baik bagi pemiliknya? Ternyata tidak. Ada syahwat yang nikmat bagi pemiliknya tetapi tidak merusak ibadah sama sekali, baik dzahir maupun batin. Contonya seperti apa yang dicontohkan Rasulullah Saw dalam hadisnya, “wa fi budh’I ahadikum shadaqah”…

OPTIMISME TANPA BATAS

Suatu ketika sahabat Abu Darda’ yang pada saat itu sudah mencapai usia lanjut. Beliau sedang menanam pohon di tanah pekarangannya, tiba-tiba datang seseorang lalu berkata, “wahai orang tua, engkau menanam saat ini mungkin usiamu tidak akan sampai memetiknya.” Apa kata Abu Darda’, “wa ma alayya an akuna ajri lillah wa ya’kuluha gairih” terus apa masalahnya aku mendapatkan pahala dari Allah dan biarlah orang lain yang memakannya. Artinya apa, sahabat Abu Darda’ berpikir bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk kebaikan orang banyak. Dalam hadis Rasulullah Saw menyatakan, “idza qamatissa’ah wa fi yadi ahadikum fasilah, fal yagrishah” apabila sudah terjadi kiamat, sementara di tangan salah seorang di antara kalian ada benih, maka hendaklah dia tanam benih itu. Kapan lagi benih itu akan tumbuh ketika kiamat telah benar-benar terjadi. Kalau hanya berpikir untuk kepentingan diri sendiri, maka tidak ada gunanya. Tetapi kita dianjurkan untuk berpikir jauh ke depan. Ada rasa optimisme yang luar…

Navigate