Cemas Menanti Akhir – Serial Tadabur Ramadhan

Ditulis oleh Ustadz Dr. Umarulfaruq Abubakar, Lc., M.HI

وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَ ۙ

“Dan orang-orang yang melakukan (kebaikan) yang telah mereka kerjakan dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya” QS. Al Mu’minuun: 60.

Kok bisa kita begitu yakin bahwa hidup kita bisa berakhir husnul khotimah?

Kalau bukan karena rahmat Allah, karunia akhir yang baik itu tidak bisa kita dapatkan.

Dengan segala amal yang pernah kita lakukan, apakah itu sudah cukup memancing turunnya rahmat Allah? Apakah bisa dipastikan sedikit amal itu diterima oleh Allah?

Antara harap takut, itulah kondisi hati yang perlu kita hadirkan setiap waktu.

Rasa takut adalah pendorong yang kuat untuk beramal. Itulah salah satu sifat orang beriman yang disebutkan dalam Surat Al Mu’minun.

Mereka sudah melakukan banyak kebaikan, tetap dalam hati mereka tetap ada rasa takut, jangan-jangan amal mereka tidak diterima. Atau kalau pun diterima, belum cukup lagi sebagai bekal perjalanan panjang di hadapannya.

Sebab, kalau mau membandingkan amal, sebaik apa pun yang kita lakukan belum juga bisa seperti Quzman Az Zhufri. Tapi ternyata akhir hidupnya sangat mengenaskan

Quzman az Zhufri, siapa dia?

Ibnu Hisyam dalam sirahnya menyebutkan bahwa Quzman az Zhufri adalah salah satu prajurit yang berada di barisan kaum muslimin saat perang Uhud. Dia berperang dengan luar biasa.

Ia maju dengan gagah berani tanpa ada rasa takut sedikit pun. Sekali tebas pedangnya, ia langsung dapat menghancurkan musuh-musuh pada saat itu.

Prajurit pasukan kaum muslimin lainnya takjub dengan keberanian dan kegagahannya.

Seusai perang mereka menemukan Quzman Az-Zhufri dalam keadaan tergeletak dengan satu anak panah yang menancap di tubuhnya. Mereka memuji tentang keberaniannya, tentang kehebatanya, dan tentang kegagahannya.

Mereka sepakat mengatakan “huwa syahid, huwa fil jannah.” Dia syahid, dia di surga

Tapi apa kata Rasulullah? “huwa fin naar” Dia di neraka!

Para sahabat kaget. Orang yang segagah itu, seberani itu, sehebat itu perjuangannya, masa ujung-ujungnya masuk masuk neraka?

Mereka pun mencari tau informasi tentang Quzman. Dan ternyata ada satu kejadian mengherankan di akhir kehidupannya.

Ketika orang-orang memuji tentang keberaniannya, apa kata Quzman,

“Apakah kamu menyangka saya ini berperang untuk agama? Tidak.

innama qaataltu lihasabi qaumi” saya itu berperang demi kemuliaan kaumku, atas nama kabilahku, atas nama kelompokku, atas nama itulah aku berperang.

Saat dia telah terluka, saat dia telah berdarah-darah akibat perang, lalu terjatuh dari kudanya, lalu dia merasa sakit, tidak tahan lagi dengan luka yang menimpanya, dia ambil anak panah, lalu dia tusukkan ke tubuhnya sendiri.

Artinya apa? Dia mati karena bunuh diri!

Huwa fin Naar” Persis seperti kata Rasulullah

Sebab Su’ul Khatimah

(إن خاتمة السوء تكون بسبب دسيسة باطنة للعبد لا يطلع عليها الناس)

Sesungguhnya, kata Ibnu Rajab Al Hanbali di Kitab Lathaiful Ma’arif, akhir yang buruk bisa disebabkan bisikan batin di hati seorang hamba yang tidak diketahui oleh manusia

Penampilan memang penting, tapi kondisi batin jauh lebih penting.

Apresiasi, penghargaan, dan pujian mungkin diperlukan dalam kehidupan, tetapi pemahaman yang benar sadar tentang diri sendiri jauh lebih diperlukan.

Bisikan-bisikan ujub, riya, dendam, hasad, dengki, ingin dihargai, ingin dipuji, dan seterusnya kadang tidak bisa dihindari. Tetapi di situlah perjuangannya. Bagaimana terus berusaha menjaga hati ini agar tetap sehat dan tetap ikhlas.

Sambil harap-harap cemas, semoga nyawa tidak dicabut saat penyakit hati sedang menjalar dengan hebat. Mungkin seperti saat ini.

Leave A Reply

Navigate