Pilihan Saat Konflik – Tadabur Ramadhan

Ditulis oleh Ustadz Dr. Umarulfaruq Abubakar, Lc., M.HI

يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْاَنْفَالِۗ قُلِ الْاَنْفَالُ لِلّٰهِ وَالرَّسُوْلِۚ فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَصْلِحُوْا ذَاتَ بَيْنِكُمْۖ وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗٓ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ۝١

Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah, “Harta rampasan perang itu milik Allah dan Rasul (menurut ketentuan Allah dan Rasul-Nya). Maka, bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang mukmin.” QS. Al Anfal: 1

Perbedaan pandangan dan selisih pemikiran hampir tidak bisa dihindari dalam hidup. Dari yang paling kecil sampai besar.

Keilmuan, kedewasaan, dan etika seseorang benar-benar diuji saat perbedaan dan perselisihan itu datang, lebih-lebih ketika menyangkut kepentingan personal, keuntungan finansial, atau pengaruh sosial.

Di zaman Rasul, persoalan harta rampasan perang pernah menjadi penyebab dan pemicu konflik kepentingan.

Saat setiap orang merasa bahwa dialah yang paling berjasa, dia yang paling berjuang, dia yang sudah mengeluarkan banyak modal dan tenaga, dan seterusnya.

Apalagi Perang Badar merupakan kemenangan pertama kalinya bagi umat Islam, juga saat pertama kaum muslimin melihat harta.

Sahabat Ubadah bin Shamit menggambarkan suasana saat itu dengan ungkapan beliau:

نَزَلَتْ حِينَ اخْتَلَفْنَا فِي النَّفْلِ، وَسَاءَتْ فِيهِ أَخْلَاقُنَا، فَنَزَعَهُ اللَّهُ مِنْ أَيْدِينَا

“Ayat ini turun saat kami berselisih tentang rampasan perang.Buruk sikap kami saat itu. Maka Allah tarik kepemilikan rampasan itu dari tangan kami”

Di zaman kita saat ini, mungkin persoalan paling rawan konflik adalah soal Pilpres dan pergantian kepemimpinan, dalam skala lokal sampai nasional.

Di saat terjadi konflik itu keilmuan, kedewasaan, dan etika sekali lagi diuji.

Di saat seperti ini, awal surat Al Anfal ini telah memberikan panduan yang tepat yaitu terkait empat pilihan sikap utama.

Awal ayat Surat Al Anfal ini datang memberikan panduan kaum muslimin tentang apa yang harus mereka lakukan di saat terjadi perbedaan.

Etika dan Ketaatan Kepada Hukum

Melihat kondisi sosial masyarakat arab, persoalan rampasan perang itu bisa menjadi pemicu perang saudara. Persis seperti keadaan mereka sebelum datangnya Islam.

Suasana hati yang cenderung sumbu pendek dan mudah tersulut, didukung oleh fisik yang kuat dan berani, menjadi pemicu perang yang melahirkan dendam kesumat yang turun temurun antar kabilah arab, menyebabkan perang saudara di antara mereka selama beberapa kurun waktu.

Namun keimanan mengubah segalanya.

Adanya iman kepada Allah, membawa kepada ketaatan kepada hukum dan kepatuhan kepada etika, menjadikan masyarakat sahabat tetap unggul dalam segala suasana.

Untuk menjaga keharmonisan dan persaudaraan, ayat-ayat Al Quran memberikan tuntunan tentang apa yang harus mereka lakukan.

Dalam ayat ini, paling tidak ada empat panduan.

Pertama, Kesadaran

Penekanan pertama dalam ayat ini adalah tentang kesadaran.

Bahwa harta rampasan perang itu sepenuhnya milik Allah dan rasulNya. Kaum muslimin berperang bukan untuk itu. Dan kalau pun akhirnya mendapatkan bagian, maka itu semata karena karunia Allah.

Dalam kepemimpinan, dari level yayasan, RT, desa, sampai negara, tidak akan pernah lepas dari ketentuan Allah.

Dialah yang memberi kuasa kepada siapa yang Dia kehendaki dan mencabut kuasa dari siapa yang Dia kehendaki. Jangan terlalu bernafsu mendapatkannya, dan jangan terlalu kecewa ketika kehilangannya.

Toh semua hanya sementara

Kedua, Ketaqwaan

Taqwa artinya hati-hati, waspada, dan taat aturan.

Harta rampasan pun ada hukum yang mengatur. Tidak boleh mengambil dan memperebutkan sesuka hati. Harus ada kata dan sikap yang tetap terukur.

Dalam transisi kepemimpinan, tidak boleh ada yang keluar dari aturan. Kejujuran adalah bentuk ketaqwaan, sementara kecurangan adalah wujud dari kefasikan.

Ketiga, Memperbaiki Hubungan

Silaturrahim yang sudah terjalin tidak seharusnya putus dan tetap menjaga akhlak kepada sesama saudara. Baik dalam pilihan mengambil posisi ataupun oposisi.

Keempat, Ketaatan

Ketaatan kepada aturan Allah dan Rasulnya harus menjadi prioritas, bahkan dalam kondisi yang paling sulit dan kelihatan merugikan sekalipun.

Keempat hal ini menjadi solusi konflik dan menghadirkan suasana persaudaraan.

Pengaruh Didikan Rasul

Ketika tentara kaum muslimin berhasil menaklukan kerajaan Persia dalam pertempuran di Qadisiyah dan Madâ’in di zaman Khalifah Umar, mereka membawa pulang barang paling berharga di dunia berupa pedang raja Persia, emas, perak, permata, dan perhiasan yang mahal harganya.

Tidak ada satupun yang hilang, dicuri, atau disembunyikan. Tidak ada juga perselisihan di antara tentara.

Setelah menerima kedatangan harta rampasan, Khalifah Umar berkata:

إِنَّ قَوْمًا أَدَّوْا هَذَا لَأُمَنَاءُ

“Sungguh mereka yang membawa ramapasan benar-benar amanah.”

Tidak ada ada lagi konflik, tidak ada lagi rebutan, tidak ada lagi perselisihan.

Itulah hebatnya masyarakat sahabat.

Ketaatan kepada hukum dan perhatian kepada etika sosial membuat mereka menjadi lapisan masyarakat terbaik sepanjang masa.

Masih ada sisa rasa kesal akibat Pilpres, Pilpres, atau pergantian kepemimpinan?

Mari kita tadabburi lagi berulang-ulang awal surat Al Anfal yang mulia ini!

Yaitu tentang kesadaran, ketaqwaan, memperbaiki hubungan, dan ketaatan.

Mungkin tidak mudah menerima kenyataan. Tetapi iman membuat segala penuh makna dan arti.

Leave A Reply

Navigate