Sebab Sejahtera Bukan Hanya Milik Orang Kaya – Serial Tadabur Ramadhan

Ditulis oleh Ustadz Dr. Umarul Faruq Abubakar, Lc., M.HI

مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِى ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَـٰمَىٰ وَٱلۡمَسَـٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ كَىۡ لَا يَكُونَ دُولَةَۢ بَيۡنَ ٱلۡأَغۡنِيَآءِ مِنكُمۡ‌ۚ

“Apa saja harta rampasan [fai-i] yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu” QS. Al Hasyr: 7

Fai’ adalah harta yang diperoleh karena ditinggalkan begitu saja oleh musuh tanpa melalui perang dan mengerahkan pasukan.

Persis seperti harta Bani Nadhir yang mereka tinggalkan begitu saja setelah dikepung 6 hari, tanpa ada perlawanan.

Berbeda dengan pengelolaan harta zakat dan ghanimah yang sudah ada peruntukannya masing-masing dalam Al Quran, penguasaan dan kebijakan pengelolaan Fai’ diberikan sepenuhnya kepada Rasulullah.

Pada saat itu, Rasul Saw mengambil kebijakan membagikan harta fai kepada mayoritas kaum muhajirin karena kondisi perekonomian mereka yang lemah.

Sehingga dengan begitu pemerataan ekonomi pun terjadi seimbang.

Dalam perjalanannya, sumber Fai’ ini menjadi lebih beragam yaitu dari Kharaj (pajak untuk non muslim yang mengelola tanah di daerah taklukan kaum muslimin), Jizyah (pajak kepada kafir dzimmi yang menjamin harta dan darah mereka terlindungi), Usyur (bea cukai untuk barang-barang yang masuk ke kawasan muslim), dan seperlima ghanimah yang menjadi hak Allah dan rasulnya.

Kebijakan Fai’ ini tujuannya adalah agar harta tidak hanya dimonopoli oleh orang-orang kaya.

Pemerataan Ekonomi dan Kebijakan Bansos

Semangat Fai’ adalah semangat pemerataan ekonomi di antara kaum muslimin

Sepeninggal Rasulullah, harta Fai ini semakin berlimpah.

Terutama pada masa Khalifah Umar bin Khattab.

Yang beliau lakukan adalah memanfaatkan harta yang ada untuk kemakmuran kehidupan kaum muslimin.

Salah satunya adalah kebijakan pembagian bantuan sosial.

Dalam membagi Bansos, kata Dr. Jaribah Al Haritsi dalam buku Fikih Ekonomi Umar bin Khathab, beliau membagi menjadi beberapa kategori sesuai keutamaan dan jasa mereka terhadap Islam.

Secara garis besar dibagi menjadi empat yaitu: orang yang terdahulu masuk Islam, pejabat dan ulama yang bekerja untuk kepentingan umum, mujahid fi sabillah, dan orang-orang yang memiliki kebutuhan.

Berapa besar Bansos yang dibagikan Khalifah Umar?

Untuk para istri Rasulullah 10.000 dirham (sekitar 40 juta) setiap tahun. Hal ini melihat keagungan hak para istri Rasulullah, kemuliaan mereka sebagai ibu orang-orang beriman.

Kaum muhajirin dan anshar mendapatkan 4000 dirham (sekitar 16 juta) setiap tahun.

Veteran perang Badar mendapatkan 5000 dirham (sekitar 20 juta setiap tahun).

Kemudian membagi Bansos kepada semua lapisan masyarakat, termasuk untuk bayi yang baru lahir.

Di era Umar seorang bayi Muslim yang baru lahir mendapat tunjangan sebesar 100 dirham, ketika beranjak merangkak jatahnya ditambah menjadi 200 dirham, dan ketika mendekati usia baligh ditambah lagi menjadi 500 atau 600 dirham.

Khalifah Umar bin Khatab juga melakukan nasionalisasi aset tanah dari negeri yang ditaklukkan, sehingga tanah-tanah itu tetap produktif dan dikelola oleh penduduk setempat. Hasilnya masuk ke Baitul Mal Kaum Muslimin.

Apa tujuannya ? Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja dengan adanya kapitalisme modal, tetapi bisa dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

Ikut Rasulullah

Sejarah mencatat, Khalifah Umar bin Khatab adalah seorang yang sangat cerdas mengikuti arahan Rasulullah dan menjalankan pesan-pesan beliau.

Sekaligus seorang yang Waqqaf inda huduudillah, orang yang segera berhenti dan sadar di hadapan titah Allah.

Apa yang beliau lakukan adalah menegakkan keadilan di tengah masyarakat.

Begitulah.

Hidup kita sebetulnya sangat sederhana.

Laksanakan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah, tinggalkan apa yang dilarang oleh beliau.

Sesimpel itu.

Surga sudah jadi jaminan.

Illa man abaa.. Kecuali ada yang tidak mau. Yaitu orang yang menolak untuk taat.

Namun ketaatan sempurna itu perlu ilmu.

Perlu membaca dan mengkaji lebih dalam tentang hadits dan kisah hidup beliau, serta kisah orang-orang berilmu pengikut beliau.

Nah, di titik inilah kita, eh saya, masih merasa sangat kekurangan

Leave A Reply

Navigate